Siapa Anak Sulung Dalam Perumpamaan Anak Yang Hilang?

Banyak orang Kristen kelaparan,  depresi, miskin, dan menderita.  Lalu apa poinnya menjadi seorang Kristen atau pengikut Kristus?

Demikian pertanyaan yang selalu muncul dibenak saya.  Pertanyaan itu kembali terniang pagi tadi,  sampai-sampai membuat saya merasa sangat malas untuk ke gereja.  Tetapi ya dengan terpaksa saya melangkah karena konon ada twit yang mengatakan bahwa lakukanlah hal yang paling tidak ingin dikerjakan karena di situ akan didapatkan hal yang sangat baik.

Ternyata benar,  pujian,  suasana ibadah,  semuanya sangat memberkati.  Ditambah lagi ada tamu-tamu istimewa yang memberikan pesan kesaksian dan kotbah yang sangat memberkati.  Ada bpk. Pdt.  Yehezkiel , Pdt. Yohanes Zagani dan Pdt. Yosep Jelemaken, mereka adalah tua tua senior Gereja Kingmi Papua.

Dan yang lebih penting dari semua,  pertanyaan saya akhirnya terjawab sore ini ketika saya memikir-mikirkan lagi kotbah tadi siang oleh Pdt. Yosep J.
Pdt. Yosep Jekemaken kotbah di Gereja Kingmi Bahtera Nabire
Kotbah tadi tentang perumpamaan anak yang hilang dari Injil Lukas 15:11-23. Kesempulan singkatnya kurang lebih bagaimana pun dosa kita,  pasti ketika kita mau kembali,  Tuhan akan memeluk dan menerima kita.

Perumpamaan anak yang hilang ini adalah salah satu perumpamaan klasik yang populer.  Yang menganggu pikiran saya sejak masa SMP tahun 2006 adalah siapakah anak sulung dalam perumpaan itu?  Pertanyaan ini pernah saya ajukan ke salah satu guru asrama di sela-sela belajar sore,  namun saat itu beliau memarahi saya karena terkesan menambah-nambah isi kitab.

Setelah 13 tahun,  sore ini akhirnya saya mendapatkan jawabannya ; Anak sulung itu adalah orang-orang Kristen yang kelaparan,  depresi, miskin, dan menderita.

Lukas 15:31 (TB)  Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu.

Bagaimana mungkin anak yang selalu bersama bapa yang kaya yang dengan mudah mengatakan segala kepunyaanku adalah kepunyanmu tidak pernah memanfaatkan hak anaknya untuk sekedar memasak seekor kambing mereka.

Lukas 15:29 (TB)  Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.

Orang Kristen selalu bersama Tuhan tetapi tidak pernah menikmati kesembuhan,  kekayaan,  sukacita,  kesehatan,  berkat kemurahaan Tuhan. Senasib dengan anak sulung itu.

Mungkin sudah saatnya kita memanfaatkan hak anak untuk menikmati dengan sebebasnya  harta Bapa kita.  Entah bagaiman cara,  selamat mencari tahu cara akses semua anugrah dalam  Tuhan!

Related Posts

Posting Komentar