FOTO-FOTO PERJALANAN JAE - MOGALO-MBIULAGI-SUGU-IWANDOGA-MENEIWAMBA-MAPA-SANEPA-POGAPA, MENYUSURI LEMBAH KEMANDONGA INTAN JAYA

Dalam perjalanan saya bersama Ka Marten Tipagau dan Pilot Alion Belau pada bulan April 2019 di Homeyo dan Wandae Intan Jaya, karena desakan waktu untuk kampanye NasDem di Pogapa rombongan memilih melewati Aito. Aito ini sebutan untuk sepanjang lembah sungai Kemabu disebelah selatan, saya melewati sebelah utara melewati jalur yang terjal bernama Saga Aganggaga.Ya saya memilih melewati Sugu karena sudah sering lewat Aito tetapi belum lewat Sugu, jadi sekedar penasaran.

Yang agak konyolnya, saya tidak sarapan juga tidak menyiapkan air minum atau sekedar botol air sama sekali, trus berjalan seorang diri padahal sudah hampir 20 tahunan saya tidak melewati jalan ini. Terakhir saat masih anak-anak mungkin 4-6 tahunan saya ikut bapa mama dari Pogapa ke Homeyo untuk menyelesaikan masalah budaya perang tempo dulu.
 
Saat kabut masih menutupi Wandai, orang-orang juga masih di dalam rumah masing-masing, saya memulai perjalanan saya.

Gereja  Tabernakel Alemba Wandai di pagi hari saat kabut masih menyelimuti

Saya bermalam di rumah dinas ketua klasis Kingmi Wandai, berjalan kaki melewati gereja Tabernakel menunju Mogalo, tetapi sebelumnya menyeberangi sungai Moesiga terlebih dahulu.

Sungai Moesiga atau Moeabu yang sangat identik dengan marga Zagani dan Miagoni

Dari sungai Moesiga menuju Mogalo, saya haru menaiki gunung yang terjal, mampus saya, haus tiba-tiba saja muncul tetapi saya harus menahan dahaga karena ya itu tadi, saya tidak membawa perbekalan. Jadi buru-buru saya berjalan dengan harapan mendapatkan air minum di kampung terdekat.
Rumah masyarakat dan beberapa spanduk calon DPRD
Gereja Mogalo

Saya meminta minum di abang Yance Miagoni di Mogalo, setelah minum, jalan lagi sampe mampus menuju Mbiulagi. Itulah sebabnya tidak banyak foto yang dihasilkan, karena fisik sudah kelelahan dan gairah untuk foto-foto hilang begitu saja entah kemana.
Tampak bandara perintis di Mbugulo dan gereja Khatolik di Mbiulagi

Sesampai di Mbiulagi, saya meminta minum di ka Meri Bagau yang sedang bertugas di situ, kemudian melewati gereja Khatolik yang tampak di foto di atas menuju bagian paling berat dari perjalanan ini. Sugu Agangaga, gunung yang sudah longsor lama dan masih terjadi erosi sampai saat ini. Bagi saya ini berat, karena saya cukup takut ketinggian, tetapi ya sudah tidak mungkin balik lagi jadi saya perbanyak doa dan mencoba melewati. Kalau masyarakat setempat karena sudah terbiasa mereka dalam sekejap sudah berjalan melewati jalur ini, kecepatan jalan mereka memang luar biasa.

Saya istirahat yang banyak banyak di punjak Sugu karena benar benar kecapean dan lapar pun datang
Terjal dan megahnya Sugu Pigu

Dibalik terjalnya Saga, muncullah seorang yang diutus Tuhan untuk memberi saya makan :) memang puji Tuhan yang dari lubuk hati, tepat saat saya lapar, bapa Miagoni yang berbaju hijau di foto atas memberikan saya 3 ubi-ubi terbaik. Saya langsung melahap satu, yang duanya saya simpan untuk sebentar.


Sungai Kemabu mengalir sepanjang lembah Kemandonga di Distrik Homeyo

Menuruni gunung Sugu, menuju Iwandoga saya sudah sangat kelelahan jadi bapa Miagoni tersebut membantu membawakan tas saya, ya beban jadi berkurang tetapi tetap saja mampus. Saya habiskan ubi sisa di salah satu mata air di Iwandoga. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan ke Meneiwamba, di Meneiwamba untung baik ada ka Pekila Bagau. 

Istirahat sejenak di Meneiwamba

Di sana kita duduk sebentar, makan singkong dan minum air, juga tidak lupa saya meminta botol minum karena ya sudah kapok. 





             Sungai Hiabu yang menyegarkan

Katanya dalam perjalanan kali ini, yang paling merepotkan dan akan menguras seluruh energi adalah menaiki lembah Hiabu menuju Mapa, jadi saya berendam satu jam di Hiabu untuk mengumpulkan cukup tenaga 😉. Makanya foto sungai Hiabu banyak karena saya habiskan banyak waktu di sana.




                                            Ketenangan sore di Mapa

Singkat cerita, sampelah saya di Mapa menaiki terjalnya jalan menuju Mapa, sampe sampe tak ada kekuatan untuk memfoto jalur penyiksaan itu. 

Mama di foto di atas memberikan air minum dan buah pisang
Duduk dengan seorang tua di Mapa

Karena tante saya yang bernama Kemi tinggal di Mapa, kami sempat ke rumahnya tetapi tidak menjumpainya karena kata suaminya tante ke kebun.

Selanjutnya karena hari sudah sore, saya memutuskan bahwa saya cukup sampai di bapa dan mama tua di Sanepa dulu untuk hari ini, supaya perjalanan menuju Pogapa dilanjutkan keesokan harinya.

Bapa dan mama tua Wilem Miagoni di Sanepa
 Sore yang indah namun dingin yang menusuk 
Setelah bermalam, keesokan harinya pagi-pagi sekitar jam 5.30-an saya memulai perjalanan menuju Pogapa.



Ya melelahkan, tetapi syukurlah sudah sampe juga. Tidak banyak perubahan terjadi, Janogo masih seperti dulu, SMP juga demikian.

Setelah sampai, saya menyimpan tas di rumah abang Yefri Bagau dan sekedar melihat-lihat keadaan Pogapa di sekitar lapangan.
Di lapangan Pogapa
By Gatto Kijo Bega Abugau

Related Posts

Posting Komentar