Sesampai di Mbiulagi, saya meminta minum di ka Meri Bagau yang sedang bertugas di situ, kemudian melewati gereja Khatolik yang tampak di foto di atas menuju bagian paling berat dari perjalanan ini. Sugu Agangaga, gunung yang sudah longsor lama dan masih terjadi erosi sampai saat ini. Bagi saya ini berat, karena saya cukup takut ketinggian, tetapi ya sudah tidak mungkin balik lagi jadi saya perbanyak doa dan mencoba melewati. Kalau masyarakat setempat karena sudah terbiasa mereka dalam sekejap sudah berjalan melewati jalur ini, kecepatan jalan mereka memang luar biasa.
Dibalik terjalnya Saga, muncullah seorang yang diutus Tuhan untuk memberi saya makan :) memang puji Tuhan yang dari lubuk hati, tepat saat saya lapar, bapa Miagoni yang berbaju hijau di foto atas memberikan saya 3 ubi-ubi terbaik. Saya langsung melahap satu, yang duanya saya simpan untuk sebentar.
Sungai Kemabu mengalir sepanjang lembah Kemandonga di Distrik Homeyo
Menuruni gunung Sugu, menuju Iwandoga saya sudah sangat kelelahan jadi bapa Miagoni tersebut membantu membawakan tas saya, ya beban jadi berkurang tetapi tetap saja mampus. Saya habiskan ubi sisa di salah satu mata air di Iwandoga. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan ke Meneiwamba, di Meneiwamba untung baik ada ka Pekila Bagau.
Istirahat sejenak di Meneiwamba
Di sana kita duduk sebentar, makan singkong dan minum air, juga tidak lupa saya meminta botol minum karena ya sudah kapok.
Sungai Hiabu yang menyegarkan
Katanya dalam perjalanan kali ini, yang paling merepotkan dan akan menguras seluruh energi adalah menaiki lembah Hiabu menuju Mapa, jadi saya berendam satu jam di Hiabu untuk mengumpulkan cukup tenaga 😉. Makanya foto sungai Hiabu banyak karena saya habiskan banyak waktu di sana.
Ketenangan sore di Mapa
Singkat cerita, sampelah saya di Mapa menaiki terjalnya jalan menuju Mapa, sampe sampe tak ada kekuatan untuk memfoto jalur penyiksaan itu.
Karena tante saya yang bernama Kemi tinggal di Mapa, kami sempat ke rumahnya tetapi tidak menjumpainya karena kata suaminya tante ke kebun.
Selanjutnya karena hari sudah sore, saya memutuskan bahwa saya cukup sampai di bapa dan mama tua di Sanepa dulu untuk hari ini, supaya perjalanan menuju Pogapa dilanjutkan keesokan harinya.
Ya melelahkan, tetapi syukurlah sudah sampe juga. Tidak banyak perubahan terjadi, Janogo masih seperti dulu, SMP juga demikian.
Setelah sampai, saya menyimpan tas di rumah abang Yefri Bagau dan sekedar melihat-lihat keadaan Pogapa di sekitar lapangan.
































Posting Komentar
Posting Komentar