KUASA BERSYUKUR (Kesaksian)

Segala puji syukur kepada Tuhan yang sangat baik kepadaku, jika banyak orang terbiar tersesat, Tuhan tidak membiarkan saya tersesat. Saya terperangkap dan tersesat dalam penyakit Israel di gurun, "bersunggut". 

Ya, bukan saya langsung Menyadari bahwa saya mengidap "bersunggut", saya baru menyadarinya setelah cukup lama terperangkap. 

Bermula dari semasa kuliah semester 4-5an, saya mulai banyak berpikir dan berlogika, ditambah dengan keseringan saya mengikuti seminar dan debat ateis di youtube. Banyak pertanyaan muncul, misalnya apakah Tuhan adil, jika ia adil mengapa kepada kita yang berkulit hitam diberikan IQ lebih rendah dari pada yang berkulit puth atau oriental. Mengapa Eropa dan bangsa lain maju tetapi Afrika dan Papua tidak, bukankah kita juga diciptakan Tuhan tetapi bagai komputer, jika kami core I3, mereka yang berkulit putih core I7. Tentu sangat lama mengejar ketertinggalan, apalagi mereka juga terus bergerak. 

Lalu ini salah siapa? Ya tentu saja pencipta core I3, tentu saja Tuhan pencipta. Entah ada maksud lain? Kita sama sekali tidak tahu, tetapi kita manusia hitam menanggungnya. Seperti kata Iwan Fals, hitam kulitmu hitam nasibmu.

Pemikiran-pemikiran itu pelan-pelan mengeser iman kristen yang sudah dibangun sejak kecil. Saya sempat berpikiran untuk menjadi ateis  karena ya kalaupun ada Tuhan, Ia bukan Tuhan yang ideal seperti yang kita pikirkan dan ajarkan di gereja-gereja. Memang saya masih ingat persis, Roh dalam diri saya menanggapi pikiran-pikiran semacan itu, katanya " keputusan menjadi ateis bagi orang-orang yang sudah pernah mengalami kehidupan yang dekat dengan Tuhan bukanlah ateis sejati, itu hanyalah sikap menyangkalan semata". 

Jadi jika saya menjadi ateis, dalam diri saya saya tahu memang ada Tuhan tetapi saya menyangkal-Nya. Dan perkataan itu sangat benar, saya tidak jadi belok. Tetapi toh tidak mudah juga melepaskan mentalitas dan pikiran yang berasal dari pemahaman-pemahaman yang sudah saya pupuk cukup sering itu.

Ujung-ujungnya saya menjadi orang yang selalu menyalahkan Tuhan dalam segala ketidak puasan dan kegagalan. Entah ketidakpuasan akan situasi keadaan Papua, atau dunia  dan diri saya. Bahkan saat wisuda sekalipun, saya berkata bahwa yang wisuda bukan cuma saya doang, banyak orang entah Budha, Islam, ateis dan mereka bahkan mendapat hasil yang lebih baik dari saya. Saya tidak cukup puas dengan kinerja Tuhan yang memberi kehidupan hanya seperti ini. 

Jika hal besar seperti wisuda saja saya tidak mengucap syukur, apalagi hal- hal lain. Pikiran saya menjadi sangat negatif, sangat sangat. 

Kemudian hanya 3 minggu setelah wisuda, bapa dipanggil Tuhan. Hati sedih dan hancur, saya pikir-pikir dan mengingat masa-masa masih berstatus anak paling rohani dulu. Masa seperti ini hanya Tuhan yang mampu menolong. 

Setelah mengantar tubuh bapa yang sudah dipanggil Tuhan  ke rumah dari rumah sakit, saya langsung menuju ke bapa mama gembala Sambara di Gereja Siloam untuk mendoakan dan bentuk pengakuan bahwa saya kalah. 

Tidak mudah memang melepaskan prinsip yang sudah masuk dalam sumsum otak. Perlahan-perlahan diproses. Tetapi sikap menuntut Tuhan dan bersunggut masih kuat sekali dalam diri ini. Setiap hari selalu saya bersunggut.

Tahun 2020 pertengahan, uang menjadi barang langka di bawah atap rumah saya. Kami tidak mengalami kelimpahan seperti sediakala, semua serba cukup. Saya tidak bisa melaksanakan rencana-rencana atau perkembangan lain, hidup stagnan tetapi tidak jatuh juga. Itulah hebatnya penyertaan Tuhan. 

Kami sekeluarga sehat semua, makanan setiap hari tersedia, tetapi bukan seperti sediakala kami memiliki kebebasan memilih, beras habis tetapi bapa Silas Nagapa yang karena ada urusan turun ke Nabire membeli beras, setalh beras yang dibelinya habis, beras dari jatah beras mama Afin diberikan kepada kami. 

Dalam keadaan begitu, saya bersunggut dan menceritakan keluhan saya kepada istri saya, " saya tahu kita memang tidak berkekurangan tetapi tidak juga berkelimbahan, kami ini seperti hewan yang dikandang diberikan makan setiap hari tetapi tidak berkelimbahan karena semua ditentukan oleh tuannya. Mengapa Tuhan membiarkan saya menjadi penganguran selama 2 tahun, semuanya diberikan sesuai kebutuhan tidak ada kelebihan sama sekali."

Sungguh begitu kenyataannya, memang Tuhan nyata betul. Tuhan menutup jalan-jalan tetapi tidak membiarkan kami jatuh tergeletak. Dia masih memperhatikan.

Saya mulai sadar bahwa ada hal yang tidak beres yang ingin dibereskan oleh Tuhan dalam diri saya. Nasehat itu sering saya dengar tetapi tidak saya pahami. Pernah kaka Julius Miagoni dengan detail menegur saya untuk belajar bersyukur dan menulai dari kecil, jangan langsung mengingini hal-hal besar, ekpektasi yang berlebihan hanya akan melahirkan banyak kekecewaan.

Sekarang baru saya paham. Saya iseng-iseng mencari buku pdf di internet untuk membaca, saya langsung tertarik sebuah buku. Bukan karena judul tetapi nama penulis yang sudah tidak asing bagi saya. Rhona Bryne, penulis buku The Secret. Saya mendownload dan membaca bukunya yang berjudul The Magic. Buku yang fenomenal, saya yakin Tuhan sudah menyingkapkan kebenaran ini kepadanya sehingga ketika saya membacanya saya disadarkan betul bahwa saya sendirilah yang membawa kondisi keluarga dalam krisis selama setahun ini. Saya tidak tahu bersyukur, dan saya putuskan untuk belajar bersyukur.

1 Tesalonika 5:18 (TB)  Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.

Dalam hukum tarik menarik, kesamaan menarik kesamaan. Selama ini sunggut-sunggut saya terus menarik keadaan yang melahirkan sunggut-sunggut yang lain juga. 

Hidup saya mengalami banyak perubahan hanya dalam sekejab 1 minggu. Saya langsung mendapatkan pekerjaan honorer IT distrik Homeyo, langsung mendapatkan laptop baru, sekarang saya sedang menanti SSD untuk Imac saya. Wow sangat menyenangkan, Tuhan memang baik, tetapi kebaikannya bisa kita nikmati saat hati kita mengucap syukur dalam segala hal.

Hari ini mama membeli ayam, kita dengan mudahnya mendapatkan kupon beras dan mendapatkan beras untuk 2 bulan ke depan. Banyak berkat yang Tuhan berikan, kesehatan, kesejahteraan, banyak sekali. Puji Tuhan.

Tuhan memberikan hujan kepada yang jahat maupun baik, kita hanya cukup tahu cara mengakses segala kemurahan hati Tuhan semesta alam. Dan caranya adalah mengucap syukur, Tuhan menghendaki itu.

Saya mengucap syukur atas semua kemurahaan Tuhan. Amen

By Gatto Kijo Bega Abugau

Related Posts

Posting Komentar