Bapa Terkasih, RIP

Posting Komentar

 

Bapa (Tengah) dengan noken dan tas saya pada saat peresmian rumah Kaka Marten Tipagau 17/12/2017

Masih tersimpan rasa duka yang mendalam atas kepergiaan bapa yang begitu cepat, hanya 3 minggu setelah saya wisuda. Tetapi saya bersyukur karena Ketika saya mengenang bapa, hal-hal positiflah yang muncul dalam memori.

Pada tanggal 11 desember 2017 saya diwisudakan di Jakarta, kemudian pada tanggal 15 saya kembali ke Nabire. Setelah 3 minggu, bapa dipanggil Tuhan  di depan saya sendiri saat menjaga di bapa yang sedang sakit di Rumah Sakit Siriwini, tepatnya  hari Rabu subuh pukul 03.00, tanggal 3 januari 2018.

Ini adalah tulisan pertama pada kategori figur di blog ini.

Bapa dilahirkan di distrik Wandai-Intan Jaya pada tahun 1957 silam dengan nama Gad Yagani dari seorang tokoh adat dan gereja bernama Isa Sabo Zagani. Isa Sabo Zagani sendiri adalah anak dari seorang tokoh adat terkenal yang namanya masih diingat orang sampai saat ini, yakni Kiguabi Zagani. Ketika misionaris Kristen Christian Missionary Alliance (CMA) datang ke tanah Moni kakek dan kakek buyut sayalah yang menerima dengan baik dan menjadi rekan bagi Misionaris.

Puji-pujian natal di gereja terakhir bapa 2017

Bapa dulu pernah bercerita, pada saat bapa masih bayi, budaya suku Moni masih sangat kental, budaya anak perdamaian masih aktif, budaya denda dan nyawa ganti nyawa begitu kuat. Ketika itu pihak marga Nagapa datang untuk menuntut maskawin, tetapi karena dahulu maskawin yang diandalkan bersifat materi seperti babi dan mata uang satu-satunya hanyalah kulit bia, karena permintaan mereka tidak dipenuhi mereka mau mengambil bapa yang masih bayi itu, tetapi keluarga Zagani yang lain segera melalui kolong rumah Honai lewat belakang diantar ke Misionaris. Kemudian, Misionaris hendak mengadopsi bapa dan membawanya ke Filipina beserta mereka, tetapi hal itu tidak dikehendaki oleh kakek karena bapa adalah anak satu-satunya.

Pada saat itu kakek  Isa Sabo menjadi rekan misionari Mr. & Mrs. Cutts Bersama mereka melayani di Hitadipa. Hitadipa sudah merupakan daerah yang sangat jauh dari Wandai apalagi masih mengandalkan berjalan kaki. Bapa pun bertumbuh dan bersekolah di Sekolah Dasar di Hitadipa, kawan-kawannya yang saya kenal adalah bapa Yakob Nagapa dan alm. Tadeus Belau.

Setelah menyelesaikan SD di Hitadipa, bapa melanjukan SMP ke Paniai dan dilanjutkan dengan SMA di SMA Negeri 1 Nabire. Pada saat itu Papua baru dianeksasi oleh Indonesia dan daerah Papua masih dibawah UNTEA setelah proses Pepera yang masih kontroversi itu.

Setelah itu bapa sempat bekerja di asuransi Jiwasraya dan BPS. Pada masa BPS, bapa membangun rumah yang baik di Pogapa ibu Kota distrik Homeyo, bapa nikah dengan mama kemudian dikaruniakan 6 orang anak. Adapun nama mama saya adalah Rupina Ezra Holombau anak dari Silagubu Holombau. Kemudian terlahirlah kami mulai dari anak sulung Dorfince Abugau yang menjadi istri dari Ketua DPR Intan Jaya Marten Tipagau, kemudian Devince Abugau istri dari Linus Bagau anggota KPU 2013-2017, kemudian saya sendiri Kijo Bega Abugau tetapi kemudian dalam kependudukan digunakan nama Gatto Kijo Abugau, kemudian Iberahim Moni Abugau, Loami Abugau dan Alisafat Abugau.

Foto lama keluarga kami sebelum lahirnya ketiga adik saya, bayi tersebut adalah saya

Pada suatu hari saya Bersama kawan-kawan menjadi kayu bakar di sekitar sungai di Pogapa, karena asyik, keesokan harinya kami mencari kayu lagi. Tiba-tiba saja air keruh mengalir, kawan saya langsung memperkirakan adanya longsor jadi kita semua berlarian pulang menghindari wilayah sungai. Sesampainya di lapangan Pogapa, kami bertemu orang yang memberitahukan bahwa bapa sedang mencari saya. Kemudian saya bergegas ke  bapa, ternyata bapa sudah packing semua barang kami dan saat itu kami pun pindah ke Nabire.

Saya masih terkagum denga napa yang terjadi, seolah sungai menyuruh kami pulang cepat karena bapa sedang mencari. Tetapi kejadian itu mempertegas bahwa Tuhan menyertai bapa, dan saya  bersyukur karena bapa adalah orang yang takut akan Tuhan.

 Bapa dengan motor kharisma peninggalannya yang sering saya kendarai (2012)

Setiap ibadah, entah ibadah rayon, ibadah raya, maupun ibadah minggu, bapa selalu membawa kertas atau buku untuk dituliskan poin-poin kotbah. Setiap malam ada ibadah malam kemudian pada pagi hari bapa membangunkan kami untuk ibadah pagi, tetapi kalau kami semua mengantuk dan tidak mau dibangunkan,bapa tidak marah tetapi bapa ibadah sendiri. Setelah ibadah bapa bekerja, membersihkan kebun, dan menyiapkan kayu bakar, menimbah air pada saat awa-awal belum ada mesin air. Bapa orang yang rajin  sekali, saya sulit mencontohinya, Moni lah yang mendapatkan sifat bapa yang rajin itu.

Sekitar tahun 2002-an saya sudah kelas 2 SD di Sd Inpress Wadio. Moni mengatakan kepada bapa dan mama bahwa ia ingin sekali masuk TK. Berkendara motor Wings jadul, kami berempat mencari TK yang dimaksud, kami berjalan mengelilingi Nabire, tetapi semua TK yang dilihatnya ditolak. Karena nampaknya sudah tidak ada lagi, kami berjalan kearah Kalibobo-Waroki, langsung Moni mengangetkan kami bahwa TK yang dimaksud sudah dilihat, ternyata TK Agape-lah yang dilihatnya.

Karena TK Agape dari Pesat adalah TK berpola asrama, Moni sangat ingin masuk asrama, akhirnya bapa mama mengizinkannya untuk masuk asrama. Pada saat Moni lulus TK dan harus mendaftarkan diri di SD Agape, saya ikut hanya sekedar jalan-jalan, tetapi karena bapa melihat bahwa di SD Agape ada pelajaran Bahasa Ingris dan Komputernya dan ada anak yang sedang mengisi soal tes, bapa bergegas menanyakan kepala sekolah saat itu bapa Youce Nanggaro untuk memindahkan saya ke situ. Akhirnya saya tes dan diterima.

Pada hari pertama sekolah, dengan segala perlengkapan yang dibelikan bapa. Mulai dari seragam baru, ikat pingan, sepatu dengan kaos kaki tinggi, botol air minum dan topi saya masuk sekolah. Selesai sekolah bapa tidak kunjung datang, sekolah sudah sepi tersisah anak asrama Hermon. Ketika pick up untuk mengantar pulang anak asram Hermon datang, dengan polosnya saya juga ikut naik pick up itu dan ikut ke asrama. Sesampai di asrama, saya bingung tapi juga polos, kawan-kawan mengantar makan dan tiba-tiba di sore hari, terdengarlah bunyi motor wings yang tidak asing lagi. Saya bergegas ke bapa dan mama, pada saat itu orang-orang Yayasan juga sedang ada di asrama Hermon, entah apa yang dibicarakan tetapi sejak saat itu saya menjadi anak asrama.

Entah apalah, tetapi hal-hal yang diluar nalar terjadi, ada design alur cerita yang sudah diatur Tuhan. Memang benar bahwa Tuhan menyertai bapa dan anaknya. Masuk asrama adalah hal besar yang terus saya syukuri sampai saat ini.

Sejak itu saya hanya bertemu bapa kalua libur, atau saat bapa sekedar berkunjung ke asrama. Tetapi bapa sangat konsisten, sebulan lalu, mama menunjukkan tumbukan kertas-kertas yang isinya waktu dan ringkasan kotbah yang pernah bapa ikuti. Teladan yang layak saya ikuti J walau tampaknya sulit.

Pada saat libur Panjang, 2012 setelah lulus SMA, bapa mendesak paman/bapa ade2 untuk menyelesai setiap masalah adat yang ada. Bapa selalu mengatakan bahwa janganlah masalah adat yang dibuat oleh orang tua kita, diturunkan lagi ke anak kita, marilah kita menyelesaikan supaya anak-anak kita hidup tenang. Hal itu kami rasakan sekarang, kami anak-anak bersyukur karena sudah tidak ada lagi tuntutan masalah adat. 

Ulang tahun adik bungsu Alisafat Abugau, dari kiri mama, loami, alisafat dan bapa

Pada saat menerima pengumuman kelulusan SMA, saya bermimpi bapa mengantar saya ke kuliah di Amerika. Tidak seperti biasa bapa mengantar sampai bandara Nabire, kali ini dalam mimpi, bapa mengantar saya, ikut naik pesawat, transit, sampai terbang ke Amerika. Sesampai di Amerika bapa pamit dan pulang.

Pada mimpi kedua saat di Nabire, bapa sudah meringkat pakaiannya, fisiknya seperti saat usia 30-an silam, jemputan sudah datang bapa harus berangkat ke kampung, tetapi saya yang masih mandi di berteriak meminta supaya bapa jangan berangkat dulu sebelum saya memberi salam perpisahan. Setelah mandi saya ke depan dan menyampaikan salam goodbye kepada bapa yang sudah bersiap dan kendaraan motor yang sudah datang menjemputnya. Setelah melihat saya, bapa naik motor dan berangkat.

Barangkali mimpi itulah yang menjadi kenyataan, tiga minggu setalah wisuda, saya sudah di Nabire, natal Bersama bapa, pada tanggal 3 januari 2018, malaikat Tuhan sudah datang menjemput bapa. Bapa berangat subuh itu. Seminggu sebelumnya bapa membelikan tiket pesawat Nabire- Jayapura untuk Moni dan istrinya untuk penerbangan tanggal 3 Januari. Ternyata diwaktu itulah bapa berangkat terlebih dahulu di subuh hari.

Tetapi segala puji syukur kepada Tuhan yang selalu menyertai kami sekeluarga sampai sekarang. Dan kami percaya bahwa bapa sedang Bersama orang-orang saleh di taman Firdaus.

CITA-CITA MENJADI PENDETA

Ini adalah kisah yang menarik bagi saya karena apa yang bapa sampaikan ke Kijo kecil pada saat saya kelas 5 SD benar-benar menjadi kenyataan.

Kami berlima naik satu motor J, di depan saya, di belakang Moni di tengah, kemudian Loami di gendongan mama. Kami berkendara motor Wings tua bapa melewati Kalibobo, tepatnya didepan jalan raya USWIM.

“Anak-anak, kalua besar kalian ingin menjadi apa?” Tanya bapa

“ Saya mau menjadi pilot.” Jawab Moni

“ Kalau saya ingin menjadi pendeta.:)” Jawab saya

Bapa langsung menyahut, katanya “ Cari cita-cita yang lain saja, jangan pendeta. Pendeta adalah pekerjaan yang pelayanan Tuhan, tetapi mereka ambisi jabatan klasis atau ketua BPJ, kehidupan mereka ujung-ujungnya susah dan mereka berpaling mencoba profesi lain. Ikut Tuhan dan melayani Tuhan tidak harus menjadi pendeta, jadi coba Kijo pikirkan cita-cita yang lain, mungkin dokterkah.”

Lalu saya menjawab, “ Kalau begitu saya mau jadi insyinyur seperti Soekarno! Kalau dokter saya malas, saya kurang suka mengurus luka-luka dan darah J”.

Saya tidak nyangka apa yang disampaikan bapa benar-benar menjadi kenyataan, banyak masalah ditingkat pendeta-pendeta yang berebut jabatan gerejawi,  banyak pendeta yang karena factor ekonomi mencoba profesi lain selain pendeta mencoba keberuntungan di bidang lain.

Jadi saya simpulkan saja bahwa hidup itu untuk melayani Tuhan, bukan menjadi pendeta satu-satunya jalan. Dan kalau mau menjadi pendeta, harus menjadi pendeta yang komitmen 100%.

Akhirnya puji nama Tuhan, saya wisuda menjadi sarjana Teknik sipil pada tahun 2017 silam.

We love you father!

Related Posts

Posting Komentar