Hal pertama yang saya amat syukuri adalah mendapatkan tukang dari teman-teman sendiri yang memberikan penawaran harga yang sangat bersahabat. Saya secara tidak langsung mengucapkan terimakasih juga kepada mereka yang bekerja keras membantu saya.
Hampir 1 minggu terakhir saya sudah mewanti-wanti andaikan anggaran habis. Ya pekerjaan sudah 78%, tetapi anggaran untuk membeli barang menipis, saya sudah mencoba menghubungi kaka-kaka, tetapi mereka pun dalam keadaan kesulitan sehingga tidak dapat membantu.
Pokok doa saya selama 3 hari ini adalah suntikan dana tambahan supaya tukang bisa maraton sampai selesai. Tetapi pagi ini dalam perjalanan menuju bank Papua, 2 pikiran masuk ke pikiran saya
1. Tahap Ini sudah maksimal sesuai kemampuan saya, tidak bisa mengharapkan uang datang dari manapun selain gaji atau sumber yang pasti dan jelas. Sehingga saya kerjakan saja yang masih bisa dikerjakan sampe maksimal
2. Ada beberapa orang berutang kepada saya, mungkinkah mereka tiba-tiba ganti
3. Intinya saa tidak bisa berharap ada dana cash tiba2
4. Mengapa harus kawatir dan berharap banyak pada yang tidak pasti, saya bersyukur masih ada uang cukup untuk melakukan beberapa tahapan-tahapan lagi. Ini pikiran dan jiwa yang sangat menguatkan saya
4 pikiran ini sudah membuat hati saya relah dan tenang, it's okay to finish slow.
Btw, apalag kemarin saya survey harga kayu papan dan balok di Wonorejo, harga mahal membuat saya perasumsi bahwa ini sudah modal terakhir akan habis untuk papan dinding depan.
Dalam perjalana balik dari Bank, ada suara dalam hati saya yang mengarahkan saya untuk mengecek sebuah somel di pinggir jalan pulang. Wow, saya kaget sekali karena harga kayu yang lebih murah sampe hemat 30 ribuan. "memang jalan Tuhan tak terduga" Saya bersyukur karena akhirnya saya bisa paling tidak mengerjakan pekerjaan sampe tahap dinding dengan modal yang ada
Puji Tuhan. Saya bersyukur, bukan apa yang tidak ada , tetapi apa yang ada pada saya itukah yang saya syukuri.
Posting Komentar
Posting Komentar