Pertanyaan kita lebih menjelaskan banyak hal tentang diri kita dari pada jawaban yang kita berikan pada pertanyaan orang lain.
Pemikiran yang sangat filosofis ketika pertanyaan "apa arti hidup?" Ini muncul sendiri dalam mesin tercanggih "otak" dan otak ini memproses pertanyaan dan mencoba mencari jawaban di database yang terbatas dalam memory kita.
Memory yang sangat canggih tetapi tak semudah copy paste data ke dalam mesin otak ini. Sehingga jawaban yang kita berikan tentu saja bergantung pada informasi yang sudah ada dalam databasenya. Tak seperti google yang mampu memberikan berjuta jawaban dari jutaan database yang berbeda pula.
Saya lahir, sekolah, kerja, menikah, miskin, kaya raya, sakit, sehat, dan meninggal entah usia muda atau pun tua. Terus apa?
Masuk surga atau neraka. Setelah masuk surga atau neraka terus apa? Banyak orang pasti berkata surga adalah akhir yang sangat bahagia, tetapi setahu saya banyak orang memilih surga hanya untuk menghindari panasnya api neraka. Andai kata ada opsi tetap di dunia atau surga atau neraka, orang banyak pasti lebih memilih hidup di dunia ini selamanya
Kita ada di bumi yang adalah tempat mahkluk bernama manusia ini seharusnya hidup selamanya. Tuhan menciptakan bumi ini untuk ditempati manusia selama lamanya tanpa kematian. Namun sayang sekali manusia jatuh kedalam dosa akibat memakan buah pengetahuan baik dan jahat yang mungkin saja sedemikian rupa mengubah genetika manusia menjadi mahkluk yang akan pasti mati.
Sehingga di satu sisi kita tahu bahwa kita akan mati meninggal bumi kita tetapi di dasar hati manusia ada sense of belonging pada planet ini.
Ketika takdir manusia mengalami perubahan setelah jatuh dalam dosa, maka fungsi awal dan alur jalan cerita manusia pun bergeser dari rencana awal. Manusia yang seharusnya dengan tubuh yang ada sejak lahir mendapatkan kekekalan, telah berubah.
Sekarang untuk mendapatkan kekekalan itu, manusia harus mati terlebih dahulu meninggalkan daging yang seharusnya kekal ini. Setelah mati, rohnya akan ke alam yang misterius, entah apakah di sana kita masih masih manusia dengan hak bebas atau sudah menjadi seperti manusia dengan batasan yang lebih luas.
Saya mengira bahwa sense of belonging ke dunia inilah yang membuat pikiran manusia sebijaksana Salomo pun menyimpulkan bahwa hidup ini sia-sia.
Raja Israel Salomo yang terkenal akan hikmat dan kebijaksanaannya pun pernah berkata dalam kitab bernama Penghotbah demikian.
Pengkhotbah 1:1-11 (TB)
1 Inilah perkataan Pengkhotbah, anak Daud, raja di Yerusalem.
2 Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.
3 Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari?
4 Keturunan yang satu pergi dan keturunan yang lain datang, tetapi bumi tetap ada.
5 Matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali.
6 Angin bertiup ke selatan, lalu berputar ke utara, terus-menerus ia berputar, dan dalam putarannya angin itu kembali.
7 Semua sungai mengalir ke laut, tetapi laut tidak juga menjadi penuh; ke mana sungai mengalir, ke situ sungai mengalir selalu.
8 Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar.
9 Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.
10 Adakah sesuatu yang dapat dikatakan: "Lihatlah, ini baru!"? Tetapi itu sudah ada dulu, lama sebelum kita ada.
11 Kenang-kenangan dari masa lampau tidak ada, dan dari masa depan yang masih akan datang pun tidak akan ada kenang-kenangan pada mereka yang hidup sesudahnya.
Mengapa kita harus meninggalkan dunia ini kalau sebenarnya rencana awal Tuhan adalah manusia di dunia ini selama-lamanya.
Hidup ini terasa sia-sia karena apapun yang kita lakukan di dunia ini, kita semua pasti mati ke tempat yang bukan seharusnya kita berada. Surga atau firdaus maupun neraka bukanlah tempat bagi manusia, kita memiliki bumi ini, kita cocok dengan bumi ini, kita diciptakan untuk menempati bumi ini.
Kapankah manusia memiliki arti sejati, bahagia, lengkap dan tak ada lagi kesia-siaan? Ketika manusia ditempatkan di bumi yang tak terdapat kematian, manusia berada di bumi seperti rencana awal penciptaan manusia yang sempurna di taman Eden.
Akhirnya,
Wahyu 21:1 (TB) Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi.
Ternyata kita akan ditempatkan di bumi yang baru. Berjuanglah untuk mendapatkan bagian di dalam bumi baru. Bumi baru yang sempurna dan cocok dengan kita manusia sebagai manusia yang diciptakan di taman Eden.
Oh ternyata karena itulah pada akhirnya manusia akan ditempatkan di bumi juga, tempat dimana ada sense of belonging dimana tak ada kesia-siaan, ada arti hidup sejati.
Sekian
Ini Tulisan yang sangat menarik.
BalasHapusSaya baru paham tentang ini.
GBU...
hormat. Sa sendiri saat mnulis itu tdk kpikiran ke ayat, awalnya ke pikiran filosofis yg penting tulis saja dan dr blkg jawaban2 ayat2 itu muncul dgn sendrinya
HapusTerima kasih, sa akan baca ulang² untuk pahami lebih dalam.
BalasHapus🙏😇
:) terimkasih sdh berkunjung,
HapusReinkarnasi dalam wujud yang sama... hehehe
BalasHapus